Hari Senin Herman Part 1



Ibarat planet di tata surya, dia adalah matahari. Sang pemilik segala energi. Dialah poros dari semua planet kecil yang berputar mengelilinginya. Iya, begitulah anggapanku terhadap hari ini, hari Senin. Layaknya matahari, hari Senin memiliki segala energi yang dibutuhkan untuk mengatur segala kemungkinan di hari-hari selanjutnya. Dia adalah pemimpin enam hari lainnya. Tanpanya, mungkin tak akan terlahir yang namanya Selasa sampai Minggu. Gak percaya? Nyanyikan saja lagu nama-nama hari.

Aku pernah menulis sebuah status di akun facebook milikku, “jika seseorang memulai hari Senin dengan banyak hal-hal jelek dan negatif, kemungkinan besar hari-hari selanjutnya akan berjalan sedemikian rupa.” Banyak yang kontra dan berkomentar negatif terhadap pendapatku itu. Namanya juga manusia, ada yang pro dan ada yang kontra. Aku tak menghiraukan mereka. Yang jelas, inilah yang kuyakini.

Siapapun dia, apapun pekerjaan dan jabatannya, semuanya harus menyambut hari ini dengan tersenyum lebar-lebar dan menjalaninya dengan semangat tinggi. Para pelajar harus mempersiapkan diri, menguatkan mental, mengerjakan PR, dan membaca pelajaran guna membekali diri menghadapi berbagai kejadian yang akan mereka hadapi di kelas. Para pegawai negeri tak boleh telat datang ke tempat kerja mereka. Jika tidak, mereka pasti akan ketinggalan prosesi upacara bendera.

Sedangkan bagi mahasiswa sepertiku, kami harus menuntaskan segala tugas, menyiapkan berbagai materi yang akan dipresentasikan, membaca beberapa buku referensi yang akan ditanyakan oleh dosen keesokan harinya, dan yang tak kalah penting adalah mengutkan mental sebelum bertemu dosen killer. Begitulah hari Senin, dengan setumpuk misteri dan cap buruk yang disematkan padanya. Semoga hari Senin kali ini .....................

“Bayuuu,, cepat mandi!!! Nanti telat kuliahnya...” teriak ibu dari bawah.

Belum kelar ku menulis buku harianku, kuturuti perintah ibuku.

*****

Badan tinggi tegap, kumis tebal, wajah kaku, dan suara lantang, begitulah dirinya. Pak Johar namanya. Beliau dikenal sebagai dosen killer oleh mahasiswanya. Bukan tanpa alasan, beliau pribadi yang tak kenal kompromi untuk urusan perkuliahan. Tak sedikit mahasiswa yang tidak lulus mata kuliah yang diampunya.
Kelas seketika menjadi hening tatkala Pak Johar memasuki ruangan.
“Bagaimana kabarnya anak-anak? Tugas minggu lalu sudah dikerjakan semua?”.
Huft. Belum ada satu menit di kelas, yang ditanyain udah tugas aja. Tapi memang begitulah Pak Johar. Sosok yang kurang disukai mahasiswa segala kebijakannya, namun sangat disukai gurauan khasnya di sela-sela beliau mengajar.
“Herman. Herman mana, masuk gak dia?”.
“Eh, hadir pak, hadir”. Jawabku keceplosan.
“Pertemuan kemarin kenapa gak masuk nak?”.
“Mmm, anu pak. Sakit”. Lagi-lagi aku menjawab pertanyaan beliau dengan asal. Asal bunyi.
“Sakit apa?”. Lanjut beliau yang sepertinya ingin menginterogasiku.
“Demam pak”.
“Lho, kok gak izin? Meskipun sakit kan bisa izin. Jangan asal ninggalin kelas tanpa informasi yang jelas”.
“Saya gak punya nomernya bapak, pak”.
“Ya meskipun sakit kan juga harus izin. Harus ada keterangannya. Jangan seenaknya aja ninggalin kelas tanpa informasi yang jelas. Iya toh. Jangan seenaknya gitu...”. Kali ini nadanya agak tinggi dan cenderung ketus.
Aku biarkan saja beliau berbicara. Gak ada gunanya aku terus menyangkal tiap pertanyaannya. Kalau sudah begini urusannya, siapapun tak akan bisa menang beradu argumen dengan beliau. Aku jadi ingat kejadian beberapa minggu sebelumnya. Beliau pernah menegurku yang tidak hadir kuliah. Saat itu aku sakit maag. Apa yang diucapkan beliau saat itu kurang lebih seperti ini
“Memang benar kalau tidak masuk kuliah harus izin. Tapi kalau tidak diizinkan, ya jangan gak masuk”.
Sebelum pelajaran beliau, aku sudah mengirim sms yang isinya adalah permohonan izin tidak hadir di perkuliahan hari ini karena sakit maag. Tapi, beliau justru tidak mengizinkanku dan menyuruhku untuk tetap berangkat ke kampus. Oleh karena itu, kali ini aku sengaja tidak izin.
*****
            Hari Senin datang lagi. Kali ini aku sedikit kurang sanggup menghadapinya. Tugas Pak Johar, membuat judul penelitian untuk tugas akhir, belum kukerjakan sama sekali. Sejak tadi malam aku sudah memikirkan segala kemungkinan yang bakal terjadi hari ini, mulai dari dimarahi dan dipermalukan di depan kelas sampai dikeluarkan dari pelajaran beliau. Pasalnya, beliau tidak segan untuk memarahi dan mempermalukan mahasiswanya yang tidak mengerjakan tugas. Meskipun itu hanya anggapan beberapa orang, tapi aku tak punya cukup nyali untuk melewati tantangan itu. Sampai-sampai aku sudah siap untuk tidak hadir (lagi) di perkuliahan beliau. Aaah, pikiranku mulai nakal. Biarin aja deh, aku gak sanggup.
*****
            Sinar matahari pagi ini terik sekali, panas. Mungkin saking panasnya matahari, sampai-sampai angin yang akan berhembus menguap di tengah jalan sebelum sampai mengenai badanku. Karena sejak tadi kota Malang tidak terasa seperti kota Malang yang sebenarnya. Hawa sejuk, udara dingin, angin semilir, semuanya tidak kutemukan. Dedaunan di pohon tinggi tepat di depan kelasku tidak bergoyang sekalipun. Banner besar tentang pengumuman pembayaran spp semester genap di sebelah masjid juga tak bergoyang. Benar dugaanku, tak ada gerombolan angin yang berani menyolek banner tersebut. Mereka juga takut kepanasan.
            Aku masih duduk di halaman depan gedung fakultas merenungi kampung halamanku yang semakin panas ini. Tiba-tiba Hendrik menepuk pundakku seraya berteriak “hey!!”. Dia bermaksud mengagetiku, tapi aku tidak kaget.
            Sambil membersihkan lantai yang akan didudukinya, Hendrik bertanya “kemarin kemana, Man? Kok ga keliatan di kelas.” “Hmm, kata anak-anak kamu sakit ya. Sakit apa?” Tanya Hendrik melanjutkan.
Ekspresi wajahnya aneh. Jarang sekali aku melihatnya seperti ini. Untuk ukuran sahabat laki-laki, dia punya cukup perhatian dibanding sahabatku lainnya. Aku bilang padanya kalau kemarin aku hanya pura-pura sakit. Aku juga menjelaskan padanya bahwa sebenarnya aku absen mata kuliah Pak Johar gara-gara belum ngerjain tugas.
            Hendrik menertawaiku. Aku keheranan. Apakah menurutnya pernyataanku barusan terdengar lucu? Ekspresinya berubah, tidak sama seperti sebelumnya. Sekarang dia meledekku habis-habisan.
“Hahaha. Yaudah deh. Aku cuma mau ngasih tau kamu, Man. Sudah tau tugas untuk minggu depan belum?” tanya Hendrik.
 “Iya udah”
“Terus? Mau masuk gak?”
“Kayaknya enggak, Hen. Jangankan bikin pertanyaan, judul penelitian aja sampe sekarang aku belum punya. Aku masih bingung issueapa yang mau aku teliti. Belum ada yang sreg sampe sekarang” jelasku padanya.
“Yaelah, masuk aja kalii. Masih ada 4 hari kok sebelum ketemu hari Senin, masih lama.  Yaudah deh, aku ke perpus dulu ya, Man. Mau ikut gak?”
“Enggak dulu deh, Hen. Oh ya, trima kasih ya udah ngingetin aku” jawabku mengakhiri percakapan.
Serasa ada kilauan cahaya melintas cepat menembus kepalaku. Seperti adegan di kartun Conan di setiap dia menemukan bukti dari teka-teki sebuah pembunuhan. Seketika aku teringat kembali semua persoalan yang membelitku selama ini. Hari Senin, pak Johar, tugas akhir penelitian, dosen killer, aku sadar ternyata semuanya terjadi di satu momen. Semua itu membuat kebencianku terhadap hari Senin semakin menjadi. Senin oh Senin.
*****
          

Comments