Hari Senin Herman Part 2

  Hari Senin akhirnya tiba. Perasaanku campur aduk antara takut dan malas. Takut bertemu pak Johar karena tugasku belum selesai, dan malas pergi ke kampus juga karena tugasku belum selesai. Aku tak sanggup menanggung malu jika memang benar pak Johar mempermalukan mahasiswanya yang tidak mengerjakan tugas. Tapi jika aku tidak masuk mata kuliah beliau, seingatku aku sudah tiga kali absen dengan ataupun tanpa izin. Tapi di satu sisi, aku sangat ingin meninggalkan mata kuliah pak Johar.
Aku ingat, Hendrik kemarin bilang padaku bahwa di pertemuan kemarin, mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas tidak dihukum apa-apa. Dia mencoba meyakinkanku bahwa apapun yang akan terjadi, tidak seburuk apa yang kita pikirkan. Namun sekali lagi, aku berprasangka buruk duluan.
“Iya kalau pak Johar gak marah, lha kalau marah? Gimana nasibku nanti” gumamku dalam hati.
Namun sekali lagi, aku belum yakin dengan keputusanku untuk tidak masuk kuliah. Sebentar lagi UAS, dan jika kali ini aku tidak masuk maka kesempatanku untuk mengikuti UAS hilang. Dan jika sampai aku tidak ikut UAS, maka tak ada harapan bagiku untuk mendapatkan kelulusan. Inilah yang namanya dilema. Hati kecilku sudah benar berkata kalau aku harus masuk kelas pak Johar. Tapi memang pikiranku nakal, selalu berulah, dan tak ingin kalah. Lagi dan lagi, aku menyerah. Tak ada yang dapat kulakukan. Doaku di Senin pagi ini semoga tidak terjadi apa-apa di kelas pak Johar dan semoga hari Senin ini semuanya bersahabat padaku. Aamiin.
*****
            UAS akhirnya tiba. Apa yang kutakutkan sebelumnya ternyata tidak terjadi. Hari itu, siapapun yang tidak mengerjakan tugas, tidak akan mendapatkan hukuman apapun dari dosen killer, pak Johar. Justru, dia yang tidak masuk kuliah pada saat itu akan mendapatkan hukuman. Hadeeeh, emang nasibku mungkin yang selalu apes kalau bertemu dengan pak Johar. Eits, tunggu sebentar. Sepertinya aku sudah tidak apes lagi. Buktinya, aku masih tetap bisa ikut UAS. Ya.. meskipun sekarang tantangannya menjadi “lulus” atau “tidak lulus”.
            Berbicara tentang UAS, aku pun sedikit kebingungan. Bagaimana tidak? UAS kali ini bukan berupa ujian tulis seperti biasa, tapi berupa tugas akhir. Tugas akhirnya adalah membuat sebuah produk penelitian yang berhubungan dengan fokus masing-masing mahasiswa, baik linguistic atau sastra. Dan yang membuatku bingung adalah aku belum menyicilnya walau judul sekalipun. Sedangkan waktu hingga batas pengumpulan terakhir adalah satu minggu lagi.
            Malamku selalu panjang. Aku tidak akan tidur sebelum jam 12 malam, dan jika aku merasa masih kuat maka aku akan menambah jam kerjaku sesuai dengan sisa tenaga yang kupunya. Kamar berantakan, buku dan kertas berserakan, sampai tumpukan pakaian kotor tak sempat kucuci. Semua pikiran terfokuskan untuk menyelesaikan tugas akhir penelitian ini. Mau tidak mau, aku harus bekerja lebih keras daripada teman sekelasku lainnya guna mengejar deadline yang telah ditentukan. Mungkin inilah balasan yang adil bagiku karena telah mengkhianati amanah orang tua padaku.
*****
Tak terasa, seminggu penuh telah kulewati, dan itu sangat berat sekali. Alhamdulillah, tugas akhir penelitian pun juga sudah tuntas meskipun aku sempat pesimis dengan peluangku. Sekarang yang tersisa adalah menunggu sambil berdoa hasil dari usahaku selama ini. aku tak berani berkata bahwa ini adalaah kerja keras, sebab jika dilihat ke belakang, aku hanya benar-benar mengerjakan tugas saat seminggu terakhir kemarin dan sisanya kuhabiskan sia-sia.
Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Lagi-lagi aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku lulus dengan nilai A. Khayal? Tapi memang begitulah kenyataannya. Mahasiswa anti hari Senin dan tak pernah mengerjakan tugas bapak dosen killer, pada akhirnya mampu lulus dengan nilai yang memuaskan. Teman-temanku tidak percaya jika aku dapat nilai A. Itu wajar, karena mereka tidak tau apa yang terjadi di balik panggung. Sebenarnya jika aku tidak masuk kuliah, bukan berarti kemudian aku tidur-tiduran. Aku tetap belajar dan mengerjakan tugas, namun bedanya ini dikerjakan di rumah dan di saat aku bolos kuliah. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin waktu belajar di kelas terbuang percuma karena lebih banyak dihabiskan untuk mendengar gurauan pak dosen killer itu.
Mungkin inilah balasan yang adil bagiku karena tetap belajar meskipun bolos kuliah. Sejak saat itu, aku tidak pernah mengulangi hal semacam ini di mata kuliah lainnya. Karena aku sadar, meski bagaimanapun juga amanah orang tua dan amanah dosen sama pentingnya dan tak boleh ditinggalkan.
TAMAT
                                                           
                                                                             *****


<
By: Nahrub_Khan

Comments